PAMBUSUANG – Keluarga besar Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka serta Komunitas Bahari Mandar tengah diselimuti duka mendalam. Telah berpulang ke Rahmatullah, Bapak H. Salim S. Mengga, tokoh besar sekaligus Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang merupakan putra asli kebanggaan Desa Pambusuang.
Kepergian beliau meninggalkan kesedihan yang mendalam, terutama bagi para pegiat literasi di Tanah Mandar. Sebagai sosok yang lahir di Pambusuang, almarhum senantiasa menjadi kompas moral paska Baharuddin Lopa, yang juga putera Pambusuang.
Inspirasi Moral bagi Generasi Mandar
Pendiri Nusa Pustaka sekaligus pegiat literasi Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, menyampaikan rasa kehilangan yang teramat sangat atas wafatnya beliau. “Sebagai pribadi dan pendiri Nusa Pustaka, saya sangat kehilangan sosok yang selama ini memberi inspirasi moral bagi kami generasi Mandar. Apalagi beliau adalah putera Pambusuang, tempat yang menjadi episentrum kami melakukan gerakan literasi di tanah Mandar,” ungkap Ridwan.
Catatan Historis: Diskusi Literasi 2016
Kedekatan Salim S. Mengga dengan dunia literasi di Pambusuang bukanlah hal baru. Jejak intelektual beliau terekam kuat dalam sejarah Nusa Pustaka. Pada 19 September 2016, almarhum pernah hadir dan menjadi pembicara dalam diskusi literasi yang digelar di halaman Nusa Pustaka.
Kala itu, kehadirannya memberikan suntikan semangat bagi masyarakat dan pemuda setempat mengenai pentingnya memperkuat wawasan melalui ruang-ruang diskusi terbuka. Momen tersebut kini menjadi kenangan abadi akan keberpihakan beliau terhadap kemajuan ilmu pengetahuan di Sulawesi Barat.
Doa dan Penghormatan Terakhir
Nusa Pustaka bukan hanya kehilangan seorang tokoh publik, melainkan kehilangan seorang pelindung moral yang selalu memberikan restu bagi setiap upaya pelestarian budaya. Seluruh jajaran Komunitas Bahari Mandar mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan segala kontribusinya bagi bangsa menjadi amal jariyah yang tidak terputus.
Selamat jalan, Bapak Salim S. Mengga. Semangat dan keteladananmu akan selalu menjadi kompas bagi kami untuk terus menggerakkan literasi dari jantung Pambusuang.
Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin.

Leave a Reply