Muhammad Ridwan Alimuddin adalah figur “Cendekiawan-Aktivis” yang selama lebih dari dua dekade (2004–2024) konsisten menjembatani kearifan leluhur Mandar dengan relevansi zaman modern. Berangkat dari disiplin ilmu kelautan dan perikanan, ia tidak hanya meneliti laut dari menara gading, tetapi “menulis laut” langsung dari geladak perahu. Dedikasinya berfokus pada upaya membalikkan arus pembangunan yang cenderung berorientasi daratan (kontinental) menjadi kembali menghargai identitas bahari (arkipelagis), dengan menjadikan Mandar sebagai mikrokosmos untuk memahami kekayaan maritim Nusantara.
Kontribusi nyatanya berdiri di atas tiga pilar utama: Inventarisasi Intelektual, Revitalisasi Teknologi, dan Transformasi Sosial. Sebagai peneliti, ia telah melahirkan puluhan buku referensi kunci seperti Orang Mandar Orang Laut dan Sandeq Perahu Tercepat Nusantara. Dalam aspek teknologi, ia memimpin revitalisasi perahu tradisional (Sandeq dan Padewakang) hingga ke panggung global, mulai dari ekspedisi ke Jepang, festival di Prancis, hingga pameran Europalia di Belgia. Di ranah sosial, ia menggerakkan revolusi literasi melalui Armada Pustaka Mandar, yang mengubah perahu dari sekadar alat transportasi menjadi wahana penyebaran pengetahuan. Atas konsistensi dan kepeloporannya merawat ingatan bangsa, Muhammad Ridwan Alimuddin menerima pengakuan tertinggi berupa Anugerah Kebudayaan Indonesia (2025) secara pribadi, melengkapi penghargaan kategori komunitas yang diterima Komunitas Bahari Mandar pada 2016. Didirikannya Nusa Pustaka adalah puncak dari perjalanan ini—sebuah dermaga fisik bagi arsip, artefak, dan semangat bahari yang ia perjuangkan, memastikan bahwa warisan maritim tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi sumber daya moral dan intelektual untuk masa depan.

Leave a Reply