Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin.

Fenomena simbolisme dalam gerakan sosial di Indonesia sering kali menjadi representasi visual dari pergeseran paradigma pemikiran yang mendalam. Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan dan aktivisme literasi di Indonesia telah melahirkan dua identitas kinetik yang sangat berpengaruh: “Salam Literasi” dengan gestur tangan membentuk huruf L, serta salam “Pustaka Bergerak” yang menggunakan telapak tangan terbuka. Kedua simbol ini bukan sekadar kode komunikasi non-verbal, melainkan kristalisasi dari sejarah panjang upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mulai dari era kolonial hingga transformasi digital kontemporer. Memahami cikal bakal kedua simbol ini memerlukan penelusuran multidimensional yang mencakup aspek kebijakan publik, inisiatif masyarakat sipil, serta akar historis keberaksaraan di Nusantara.

Akar Historis Literasi di Nusantara

Penelusuran terhadap cikal bakal simbol literasi modern tidak dapat dipisahkan dari fondasi keberaksaraan yang telah tertanam di kepulauan Nusantara selama berabad-abad. Jauh sebelum institusi formal pendidikan nasional terbentuk, tradisi literasi di Indonesia telah mengalami metamorfosis dari bentuk visual-piktografis di dinding gua prasejarah menuju sistem aksara yang kompleks. Para arkeolog dan filolog mencatat bahwa tradisi tulis-menulis di Nusantara mulai berkembang pesat sejak abad ke-5 Masehi, ditandai dengan pengaruh Hindu dan Buddha yang memperkenalkan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Bukti-bukti epigrafi seperti Prasasti Kedukan Bukit (683 M) dan Prasasti Talang Tuo (684 M) di Sumatera menunjukkan bahwa literasi pada masa itu adalah instrumen kekuasaan dan spiritualitas yang sangat vital bagi tatanan kenegaraan.

Memasuki abad ke-13, pengaruh Islam memperkaya khazanah literasi dengan memperkenalkan aksara Arab yang kemudian diadaptasi menjadi aksara Jawi (Arab-Melayu) dan Pegon. Fase ini sangat krusial karena literasi mulai didesentralisasi melalui lembaga pendidikan berbasis komunitas seperti pesantren, yang memungkinkan masyarakat luas untuk mengakses teks-teks keagamaan dan sastra. Evolusi ini menciptakan lapisan tradisi lisan dan tulisan yang bertumpuk, di mana masyarakat Indonesia sering kali berada dalam kontinum antara zaman kelisanan primer dan literasi naskah.

Pada abad ke-20, literasi bertransformasi menjadi alat perjuangan politik dan identitas nasional. Berdirinya Commissie voor de Volkslectuur pada tahun 1908, yang kemudian berubah menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917, merupakan upaya pertama dalam skala sistematis untuk mengelola bacaan rakyat. Namun, tonggak sejarah yang paling menentukan adalah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, di mana bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan. Literasi pada saat itu bukan lagi sekadar kemampuan teknis membaca huruf, melainkan sebuah ikrar politik untuk membangun kedaulatan bangsa.

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pemerintahan Presiden Soekarno menghadapi tantangan besar berupa angka buta aksara yang mencapai 90 persen. Hal ini memicu lahirnya program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) pada tahun 1948 yang berhasil secara signifikan menurunkan angka buta huruf hingga 40 persen pada tahun 1960-an. Pada era Orde Baru, upaya ini dilanjutkan melalui Program Paket ABC dan program Aksarawan Fungsional yang lebih mengandalkan birokrasi pemerintah untuk mobilisasi massa. Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa literasi di Indonesia selalu identik dengan upaya pembebasan dan pembangunan karakter bangsa, yang menjadi landasan bagi lahirnya simbol-simbol literasi di masa depan.

Salam Literasi L: Konstruksi Visual Gerakan Literasi Nasional

Simbol “Salam Literasi” yang dilakukan dengan melipat tiga jari (kelingking, manis, tengah) dan membiarkan ibu jari serta telunjuk tegak membentuk huruf L, merupakan produk dari institusionalisasi gerakan literasi pada era modern. Simbol ini lahir dari kebutuhan untuk memberikan branding yang kuat pada Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang mulai digalakkan secara masif oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sekitar tahun 2016.

Konteks Kebijakan dan Lahirnya Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Cikal bakal simbol ini berakar pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kebijakan ini, yang diinisiasi pada masa Menteri Anies Baswedan, mewajibkan kegiatan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai sebagai bagian dari upaya membangun budaya baca di sekolah. Namun, penggunaan simbol L secara nasional dan masif lebih banyak diasosiasikan dengan kepemimpinan Menteri Muhadjir Effendy yang menjabat setelahnya.

Dalam berbagai forum nasional seperti Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP tahun 2017, Menteri Muhadjir Effendy secara aktif mempromosikan salam ini dalam pidato-pidatonya. Baginya, literasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan “senjata” bagi anak-anak Indonesia untuk mengambil alih tongkat estafet bangsa dan bersaing di kancah internasional. Penggunaan gestur L di sini berfungsi sebagai identitas pemersatu bagi para siswa, guru, dan pegiat literasi di seluruh penjuru negeri.

Filosofi dan Makna Semiotik Huruf L

Secara harfiah, huruf L pada simbol ini merujuk pada kata “Literasi”. Namun, secara filosofis, pemilihan gestur ini mencerminkan perluasan makna literasi itu sendiri. Berdasarkan rujukan dari UNESCO dan World Economic Forum yang diadaptasi oleh Kemendikbud, literasi kini mencakup enam pilar dasar: baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Simbol L yang dibentuk oleh ibu jari dan telunjuk memiliki beberapa lapisan interpretasi: Ketajaman dan Keterarahan: Sudut tegak lurus yang terbentuk melambangkan ketajaman nalar dan arah pemikiran yang kritis dalam mengolah informasi. Identifikasi dan Pemahaman: Literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, dan menciptakan sesuatu dalam dunia yang kaya akan informasi. Literasi untuk Kesejahteraan: Dalam perkembangan selanjutnya, simbol L juga dikaitkan dengan slogan “Literasi untuk Kesejahteraan” yang menekankan bahwa kecakapan literasi adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan transformasi sosial.

Simbol ini dirancang sedemikian rupa agar mudah dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar hingga orang dewasa, menjadikannya pesan yang universal dan inklusif. Dalam buku-buku teks kurikulum terbaru, seperti Pendidikan Pancasila Kelas IV tahun 2023, aktivitas literasi ditekankan untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila yang memiliki integritas dan semangat kebangsaan.

Salam Pustaka Bergerak Indonesia: Manifestasi Militansi Masyarakat Sipil

Berbeda dengan Salam Literasi L yang bersifat institusional, salam Pustaka Bergerak yang dilakukan dengan mengangkat tangan dan membuka kelima jari (telapak tangan terbuka) memiliki cikal bakal dari gerakan akar rumput yang sangat organik. Gerakan ini dipelopori oleh Nirwan Ahmad Arsuka, seorang intelektual, penulis, dan pemelihara kuda yang mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan buku ke pelosok Nusantara.

Sejarah Berdirinya Pustaka Bergerak dan Peran Nirwan Ahmad Arsuka

Inisiasi pembentukan Pustaka Bergerak dimulai pada tahun 2014. Ide unik ini lahir dari kegelisahan Nirwan saat melakukan perjalanan berkuda dari Pamulang, Tangerang Selatan menuju Parongpong, Bandung Barat. Di setiap tempat persinggahan, ia mendapati anak-anak yang antusias namun tidak memiliki akses terhadap buku. Bahkan, saat ditanya mengenai sejarah kampung mereka sendiri, anak-anak tersebut tidak mampu menjawab, yang memicu kekhawatiran Nirwan bahwa generasi masa depan akan kehilangan identitas budayanya.

Berbeda dengan perpustakaan konvensional yang menunggu pembaca datang, filosofi Pustaka Bergerak adalah “menghampiri pembacanya”. Nirwan memulai gerakan ini dengan membawa buku menggunakan kuda, yang kemudian menginspirasi ribuan relawan di seluruh Indonesia untuk melakukan hal serupa dengan berbagai moda transportasi: perahu pustaka di Mandar dan West Papua, noken pustaka di pegunungan Papua, bendi pustaka, motor pustaka, hingga becak pustaka.

Makna Salam Telapak Tangan Terbuka

Salam dengan mengangkat tangan dan membuka semua jari tangan dalam gerakan Pustaka Bergerak membawa makna filosofis yang sangat berbeda dengan simbol birokrasi: Keterbukaan dan Kejujuran: Telapak tangan terbuka melambangkan ketulusan relawan dalam berbagi ilmu tanpa pamrih. Ini adalah simbol dari gerakan yang transparan dan inklusif bagi semua kalangan. Solidaritas Warga: Gerakan ini menekankan pada kekuatan masyarakat madani (civil society). Lima jari yang terbuka melambangkan keragaman latar belakang relawan yang bersatu dalam semangat gotong royong.Perlawanan terhadap Stigma: Nirwan Ahmad Arsuka sering menekankan bahwa rendahnya minat baca di Indonesia adalah mitos; masalah yang sebenarnya adalah kurangnya akses. Telapak tangan terbuka adalah pernyataan bahwa akses terhadap pengetahuan harus dibuka selebar-lebarnya bagi rakyat di pelosok. Pelajar-Pejuang: Dalam konteks yang lebih luas, tangan terbuka melambangkan sosok pelajar yang selalu siap menyerap ilmu baru, sementara ketegasan mengangkat tangan melambangkan jiwa pejuang literasi.

Menurut Muhammad Ridwan Alimuddin, salah satu pendiri jaringan Pustaka Bergerak Indonesia bersama Nirwan Ahmad Arsuka, simbol Salam Pustaka Bergerak diinspirasi dari dua peristiwa budaya. Pertama, gambar cadas di goa-goa purbakala Nusantara yang sebagian besar memperlihatkan gambar telapak tangan; kedua: kebiasaan suku pelaut Austronesia ketika melihat gugusan bintang saat berlayar.

“Salam pustaka bergerak saya perkenalkan bersama kak Nirwan di Pambusuang, Nusa Pustaka. Itu kan dulu panas-panasnya gerakan Pustaka Bergerak ada film Moana, nah di dalam salah satu adegan Moana mengangkat telapak tangannya sambil membidik gugusan bintang. Kebetulan juga, anak ketiga saya namanya Moana, ari-arinya saya tanam di halaman Nusa Pustaka. Juga suatu waktu saya menggambar bersama anak-anak Pambusuang simbol telapak tangan seperti yang ada di goa,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin.

Pustaka Bergerak kini telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki lebih dari 3.000 simpul dan melibatkan hampir 20.000 hingga 27.000 relawan di seluruh Indonesia. Gerakan ini bahkan mendapatkan pengakuan internasional dari lembaga seperti AFIELD dan diliput oleh media global seperti BBC dan Al Jazeera sebelum akhirnya viral di dalam negeri.

Sinergi dan Perbedaan Paradigmatik Antara Kedua Simbol

Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi, Salam Literasi L dan Salam Pustaka Bergerak merepresentasikan dua kutub yang saling melengkapi dalam ekosistem pendidikan di Indonesia.

Hubungan antara kedua gerakan ini mencapai titik puncaknya ketika Presiden Joko Widodo memberikan dukungan resmi terhadap Pustaka Bergerak setelah bertemu dengan para relawan di Istana Negara pada Mei 2017. Salah satu hasil nyata dari sinergi ini adalah kebijakan pengiriman buku gratis melalui PT Pos Indonesia pada tanggal 17 setiap bulannya, yang sangat meringankan beban operasional para relawan dalam mendistribusikan buku ke wilayah terpencil. Dalam peristiwa-peristiwa formal tersebut, kedua salam sering digunakan secara bergantian, menunjukkan bahwa negara dan masyarakat sipil dapat berjalan beriringan dalam agenda pencerdasan bangsa.

Catatan: Beberapa informasi bersumber dari bantuan AI Gemini.

Leave a Reply

KUTIPAN

Merawat Ingatan Bahari, Melayarkan Literasi Negeri

~ Muhammad Ridwan Alimuddin, pendiri Nusa Pustaka

Designed with WordPress

Discover more from Nusapustaka

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading