PAMBUSUANG – Halaman depan Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka berubah menjadi bioskop rakyat selama dua malam berturut-turut pada 26-27 Januari 2026. Melalui inisiatif Farah Mulki, mahasiswa KKN Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman), warga Desa Pambusuang diajak menyelami berbagai kisah melalui kegiatan “Nonton Bareng Film Fiksi dan Dokumenter”.
Dimulai tepat pukul 20:00 WITA setiap malamnya, acara ini dihadiri oleh warga dari berbagai usia yang antusias menyaksikan rangkaian tayangan di bawah langit pesisir Pambusuang.
Menampilkan Karya Bertema Lokal
Pemilihan film dalam kegiatan ini sangat erat dengan identitas dan inspirasi lokal. Pada malam pertama (26 Januari), penonton disuguhi tiga tayangan sekaligus, yakni: Memimpi Harmoni karya Dahri Dahlan, Badai Puisi di Layonga karya Rifai Husdar, dan Si Bolang: Sahabat Pustaka dari Pesisir Pambusuang yang diproduksi Trans 7.
Malam kedua (27 Januari) menjadi puncak acara yang khidmat dengan pemutaran film dokumenter Imam Lapeo: Cahaya dari Timur. Film ini menarik perhatian besar warga karena mengangkat sosok ulama karismatik yang sangat dihormati di tanah Mandar.
Belajar Tanpa Menggurui
Tujuan utama dari program ini bukan sekadar hiburan, melainkan menyediakan sarana edukasi yang cair dan tidak kaku. Melalui medium visual, pesan-pesan moral dan informasi sejarah dapat tersampaikan secara ringan kepada masyarakat. Halaman Nusa Pustaka pun berubah menjadi ruang diskusi terbuka yang hangat pasca-pemutaran.
Farah Mulki selaku pelaksana kegiatan mengungkapkan bahwa metode nonton bareng dipilih sebagai strategi untuk membangun keakraban antara mahasiswa KKN dan warga desa.
“Saya memilih program ini karena melalui film, kita bisa belajar banyak hal tanpa merasa sedang digurui. Selain itu, momen berkumpulnya warga di depan Nusa Pustaka menjadi cara yang paling efektif bagi saya untuk membangun keakraban dan memperkuat kebersamaan di desa ini,” ungkap Farah saat menutup kegiatan.
Simpul Literasi Audio-Visual
Keberhasilan acara ini semakin mengukuhkan peran Nusa Pustaka sebagai simpul literasi di Pambusuang. Literasi tidak hanya terbatas pada teks dan buku, tetapi juga melalui audio-visual yang mampu menyentuh sisi emosional dan spiritual penontonnya.
Dengan berakhirnya rangkaian nonton bareng ini, diharapkan semangat untuk menggali nilai-nilai lokal melalui media kreatif terus tumbuh di tengah masyarakat Pambusuang.
Penulis: Farah, peserta KKN Posko Pambusuang.

Leave a Reply