PAMBUSUANG – Aroma laut dan memori kejayaan maritim Mandar terasa kental di Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang. Pada Senin (24/11/2025), sebuah gelaran budaya bertajuk “Mengarungi Warisan Budaya Maritim Mandar: Layar Karoroq” resmi dibuka. Acara ini memadukan pameran fotografi karya Yusuf Wahil yang puitis dengan diskusi mendalam mengenai masa depan bahari Mandar.

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2025. Pameran fotografi ini sendiri dijadwalkan berlangsung cukup panjang, mulai dari 24 November 2025 hingga 31 Januari 2026, memberikan kesempatan luas bagi masyarakat dan peneliti untuk mendalami visualisasi sejarah ini.

Kolaborasi Penjaga Narasi Maritim Acara pembukaan menghadirkan para pakar yang membedah posisi penting Mandar dalam peta maritim dunia: Mahandis Yoanata Thamrin: Managing Editor National Geographic Indonesia. Beliau menekankan bahwa Sulawesi adalah ruang di mana cerita-cerita bahari dunia diciptakan, dan melestarikan Layar Karoroq berarti juga melestarikan bahasa ibu serta tradisi ekologi pesisir; Muhammad Ridwan Alimuddin: Peneliti maritim dan pendiri Nusa Pustaka. Beliau menjelaskan evolusi perahu tradisional Mandar, dari era padewakang hingga pinisi, yang koleksinya tersimpan rapi di museum ini; Yusuf Wahil: Jurnalis foto dokumenter yang memamerkan karyanya. Beliau menyoroti keprihatinan atas nasib penenun Layar Karoroq yang kini hanya tersisa beberapa orang saja di Kampung Lanu; Farhanuddin, SE, M.Si: Dosen FISIP Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang bertindak sebagai pemantik diskusi.

Layar Karoroq: Simbol Ketangguhan yang Terancam Punah

Pameran ini menyoroti “Layar Karoroq”, kain layar tradisional yang terbuat dari serat daun lanu. Dahulu, layar ini menjadi kebanggaan Tanah Mandar dan digunakan oleh pelaut seantero Nusantara sebelum era mesin motor masuk.

Pengunjung diajak menyaksikan bagaimana tangan-tangan lembut perempuan Mandar, seperti para penenun terakhir—Killa, Sana, dan Ma’di—merangkai serat daun menjadi lembaran imaji yang fungsional. Mahandis Yoanata Thamrin mengingatkan bahwa pengetahuan teknis ini adalah “kecerdasan ekologis lokal” yang kini menghadapi ancaman kepunahan.

Nusa Pustaka: Rumah Literasi yang Menyala

Pemilihan Nusa Pustaka sebagai lokasi pameran mempertegas peran institusi ini sebagai pusat preservasi budaya. Dengan koleksi lebih dari lima ribu buku dan berbagai artefak kebaharian, Nusa Pustaka menjadi ruang temu ideal bagi mahasiswa, komunitas, dan budayawan untuk mendiskusikan bagaimana warisan leluhur ini tetap bisa “berlayar” melintasi zaman.

Melalui pameran “Layar Karoroq” ini, diharapkan muncul dukungan komunitas yang lebih kuat untuk membangkitkan kembali keterampilan menenun dan pengetahuan navigasi tradisional yang menjadi identitas luhur Sulawesi Barat.

Leave a Reply

KUTIPAN

“Merawat Ingatan Bahari, Melayarkan Literasi Negeri“

~ Muhammad Ridwan Alimuddin, pendiri Nusa Pustaka

Designed with WordPress