PAMBUSUANG – Komunitas Bahari Mandar sukses menyelenggarakan workshop pembuatan replika perahu tradisional Mandar pada tanggal 2-3 Oktober 2025. Kegiatan yang didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII ini dipusatkan di Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka, sebuah ruang publik, perpustakaan, dan museum di Desa Pambusuang yang dikelola langsung oleh Komunitas Bahari Mandar.
Workshop ini diikuti oleh 30 peserta dengan latar belakang beragam, mulai dari utusan Museum Mandar, komunitas seni, jurnalis, hingga mahasiswa dan santri. Ketua Komunitas Bahari Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, menyatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk mentransfer pengetahuan tentang kebudayaan bahari melalui praktik langsung pembuatan miniatur.
Workshop ini menghadirkan empat pengrajin ahli sebagai narasumber dan penyedia bahan praktik: Muhammad Ridwan Alimuddin: Memberikan pengenalan mendalam mengenai budaya pembuatan replika perahu, Ruslan (Desa Tangnga-tangnga): Mengenalkan cara pembuatan replika perahu sandeq, Ridwan (Desa Sabang Subik): Mempraktikkan pembuatan replika berbahan triplek untuk jenis perahu lepa-lepa, padewakang, dan pinisi, dan Zakaria (Pambusuang): Memperlihatkan teknik pembuatan replika menggunakan kayu jati, mulai dari tahap penggalian kayu hingga pemasangan gading.
Peserta tidak hanya menonton, tetapi juga melakukan praktik langsung merakit 35 miniatur sandeq yang telah disediakan dalam paket kegiatan. Penggunaan bahan yang bervariasi, mulai dari kayu jati hingga triplek, memberikan pengalaman nyata mengenai kerumitan dan keindahan arsitektur perahu tradisional.
Souvenir Budaya hingga ke Mancanegara Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah penyerahan lima miniatur sandeq karya Ruslan yang disimpan dalam kotak kaca. Melalui BPK Wilayah XVIII, replika-replika tersebut diserahkan kepada Korpala Universitas Hasanuddin sebagai souvenir yang akan dibawa dalam misi ke Thailand.
Penutupan di Ruang Publik Nusa Pustaka Rangkaian acara ditutup pada malam 3 Oktober 2025 di halaman Nusa Pustaka. Acara dimeriahkan dengan pemutaran film dokumenter mengenai bahari Mandar dan pameran hasil karya replika yang dibuat selama workshop. Sambil menikmati hidangan tradisional saraqba dan pangan lokal, para peserta dan masyarakat merayakan keberhasilan upaya pelestarian ini di tengah hangatnya kebersamaan.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Bahari Mandar membuktikan bahwa Nusa Pustaka bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan wadah kreatif dan pusat pemberdayaan kebudayaan bagi masyarakat Sulawesi Barat.

Leave a Reply